oleh

Demonologi Rezim Paranoid 2, Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso

Demonologi Rezim Paranoid 2, catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Gegap gempita pertunjukan panggung politik nasional hingga hari ini hanya bergerak pada isu-isu yang sama, yang begitu-begitu saja seperti jalan di tempat, empat L; lu lagi lu lagi. Belum ada terobosan berarti yang menyentuh persoalan hulu. Masih soal sentimen masalalu, sentimen identitas, saling nyinyir-menyinyir tidak ada habisnya.

Padahal esensi dari politik adalah seni membuat kebijakan untuk kebaikan banyak orang. Tapi realitas yang terjadi justru bertolak belakang dari definisi politik itu sendiri. Praktik yang terjadi ya rebutan kekuasaan, rebutan pengaruh dan kursi. Maka apapun cara dilakukan meski dengan menebar hoax dan kebohongan, menebar virus pecah belah dan adu domba, yang penting menang dalam kontestasi politik. Padahal substansi politik itu adalah kebaikan itu sendiri.

Praktiknya sampai hari ini, adalah kegagalan para petinggi yang berlaga di arena koloseum kekuasaan melihat prioritas. Yang dipikirkan hanya bagaimana caranya menang pilpres di 2019. Saat kampanye dikembalikan ke jalurnya, rencana-rencana ekonomi, pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, perlindungan warga negara atau isu-isu sosial lainnya, mereka pusing. Susah buat argue.

Di pihak petahana, menterinya yang paling pinter saja hanya bisa menyalahkan asing. Rupiah sudah ndlosor melewati 15.000 rupiah/1 $. Harga minyak dunia dalam trend naik. Dan inflasi dijaga pake impor pangan. Tetapi menterinya sibuk nyalahin negara lain. Apakah ini cuma nakut-nakutin? Tidak, ini realitas ekonomi. Pemerintah harus segera meresepkan obat yang pahit. Agar kita telen, getir sebentar lalu membaikkan keadaan.Tapi jangan menunggu sakitnya parah cuma gegara mau menang pilpres. Jika begitu namanya dzalim.

Baca Juga :  Kembali Merajut Indonesia, Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso

Makin kesini, bukan perbaikan yang kita dapatkan, tapi justru makin banyak gerakan pembodohan massal. Pokoknya jika ada orang yang bilang ekonomi buruk, berarti hoax. Ulang-ulang pesan ini sampai pada kondisi bawah sadarnya, sehingga menganggap pembicaraan soal buruknya ekonomi itu hoax.

Di sisi lain, media mengisi benak publik dengan hal-hal yang tidak ada gunanya. Presiden pakai sneaker-lah. Keluarga presiden bahagia-lah, cucunya lucu-lah, presiden menjadi salah satu muslim berpengaruh di dunia-lah — bla bla bla.

Juga komentar-komentar presiden yang “sontoloyo” dilegitimasi mirip BK jaman dululah, tentang kampanye kebohongan-lah, dan hal remeh-temeh soal pembakaran bendera oleh oknum Banser-ep yang esensinya seperti sengaja untuk mengadu domba. Mereka tahu betul cara menyulut kemarahan, mereka belajar dengan baik bahwa pembakaran simbol akan memicu kemarahan sebagian umat Islam. Hal-hal yang sebenarnya tidak penting tapi bisa bikin publik terbius, terlena dan lupa masalah urgent sebenarnya. Toh yang penting menang pilpres.

Di kubu petahana banyak kumpul orang yang tetap mau pilpres ini soal mereka. Soal bhineka, tapi tidak mampu ngomong ekonomi dan kemiskinan. Bisanya cuma nyinyir soal HTI dan radikalisme. Dagangannya adalah pecah belah. Orang disuruh milih ‘bhineka’ atau ‘radikal’. Ini yang tempo hari pernah saya bahas di tulisan, “Demonologi Rezim Paranoid” sebelumnya.

Baca Juga :  Narasi Keadilan Ala Semesta, Sebuah Opini Malika Dwi Ana
Demonologi ialah rekayasa sistematis untuk menempatkan “sesuatu” agar dipandang sebagai ancaman, musuh yang menakutkan, dst. Sesuatu di sini bisa berwujud sebagai person, konsepsi, isu, keadaan dan lain-lain. Tergantung skenario yang dijalankan. Narasi demonologi berujung pada stigma atas sebuah keadaan atau situasi tertentu agar “sesuatu” itu dicap berbahaya, harus dijauhi, kudu dilawan bahkan kalau perlu dibasmi, dan dihancurkan.

Ini mirip labeling theory (teori cap atau stigma) dimana publik selaku korban mis-interpretasi sudah tidak mampu lagi menahan atau menolak pengaruh atas stigma yang dilekatkan secara massive melalui kekuatan media terhadap “sesuatu” tersebut.

Dan keduanya, baik demonologi maupun labeling theory merupakan bagian dari taktik serta teknik propaganda. Intinya adalah bagaimana memproduksi rasa takut atau kecemasan di tengah-tengah masyarakat, walau sebenarnya isu yang dilempar ke publik, misalnya, itu cuma rekaan yang sengaja diproduksi guna menutupi kegagalan sebuah rezim.

Baca Juga :  Prestasi Seorang Presiden, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Tujuannya jelas; memindahkan isu sentral yang rasional, yakni ekonomi, pendidikan, kesehatan, perlindungan hukum dan sebagaimanya pada isu-isu emosional. Mereka berharap menang banyak di sini. Soal kohesi sosial? Emang mereka pikirin? Mengkotak-kotakkan itu bukan sesuatu yang baru. Narasi yang dimainkan sesat.

Agar narasi ini kuat, ditanam lagi ketakutan-ketakutan yang berbunyi “islam radikal-lah”. Atau yang lebih soft adalah betapa tidak masuk akalnya perilaku konservatif-konservatif itu. Tetapi lucunya, tidak ngaca kalau KHMA, cawapresnya adalah simpul utama golongan konservatif. Trus logikanya? Ahh tidaj penting. Yang penting orang menjadi khawatir, ketakutan, dan cemas.

Tulisan ini saya buat dengan berjejal-jejal kesedihan, dan kekecewaan atau sebutlah sebagai keprihatinan yang sangat. Bangsa ini semakin terbelah. Saya khawatir akan diterpa krisis berkepanjangan gegara kepemimpinan yang lemah. Rakyat, akan tersandera kepentingan-kepentingan menyangkut pilpres 2019 yang menghabiskan banyak energi. Padahal yang diperlukan bangsa ini adalah kebersamaan untuk maju.

Loading...

Baca Juga