oleh

Catur Dharma Pancasila, Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso

700 Covid

Catur Dharma Pancasila, catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik, Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society.

“Al-dienu ‘aqlun. Wa la diena liman la ‘aqla lah.” [Agama itu berfikir. Maka tidak memiliki agama sesiapa yang tak punya pikiran]. Akalmu adalah wakil otoritasmu dalam menjalani hidup; Afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun. , Mikiro tah. Mikiro he menungso, menus-menus ora rumongso! Manusia yang berakal diperingatkan dengan kiasan dan hikmah. Tapi jika akalnya sudah lumpuh, maka bencana yang akan menjadi peringatan.

Beragama adalah proses menelusuri kebenaran. Jangan sampai bergama tapi tidak berTuhan, tidak memahami apa yang menjadi kehendakNya. Ketika diri berproses menemukan Tuhan, maka itu disebut proses menuju jiwa keemasan, paripurna, atau disebut manusia sempurna, khalifah Tuhan, atau dalam Islam disebut ahsani taqwim.

Baca Juga :  Tuan Guru Abdul Somad, Tolong Pimpin Barisan Agar Jangan Terpecah Kembali Jadi Kerumunan

Jiwa keemasan adalah jiwa yang selalu mengedepankan kasih sayang (kemanusiaan yang adil dan beradab). Dan selalu menjadi perekat antara satu dengan lainnya, seperti air yang merekatkan semen, pasir, batu dll (persatuan Indonesia). Jiwa keemasan selalu dituntun oleh petunjuk Gusti, sehingga berbuat sesuatu selalu dengan pertimbangan bijaksana, tidak melawan kodrat dan irodatNya. Mengambil keputusan atas dasar kesadaran demi terwujudnya keadilan. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kesemuanya itu yang disebut sebagai Catur Dharma dalam Sutasoma, yang kemudian dirumuskan sebagai Pancasila.
1100 Covid

Nahan hetu narendra bhakti rindeso çri çakyasinhasthiti, yatnagegwan i pancaçila krtasaskarabhisekakrama, lumra nama jinabhisekanira saɳ çri jñanabajreçwara, tarkka wyakaranadiçastran inaji çri natha wijñanulus.
Lima laku utama atau Pancasila, sesuai aturan dan dinamika masyarakat yang terjadi mengikutinya, dan kebenaran yang disebut Jinabhisekara pada diri seseorang yang cerdas, Jnanbajraswara harus sudah tuntas dalam filosofi religius, cerdas se cerdas-cerdasnya menyikapi semua struktur moral, peradaban, dan ajaran keagaman yang beragam.

Baca Juga :  KPK Marjinalkan Hak Advokat

Konsep Catur Dharma ini pula yang kemudian dibukukan oleh Ki Ageng Surya Mentaram dalam Raos Pancasila. Pancasila adalah dasar negara kita, Indonesia, yang bersendikan atas Kedaulatan Rakyat, Kebangsaan, Prikemanusiaan, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan.

Dan itu redefinisi dari Rukun Iman, tetapi bukan Rukun Islam, karena definisi ber-iman itu bisa berbagai macam refleksi agamisnya, sementara rukun Islam eksklusif berlaku untuk umat Islam saja.

Rukun Iman per definisi, misalnya adalah beriman kepada Allah yang Wahid, Tauhid, Esa, satu, itulah sila 1 dari Pancasila. Dan beriman kepada Qodrat-Iradat-Takdir adalah Keadilan Sosial, yang merupakan Qodrat atau Jati dirinya umat manusia yang madani, truth of civil society. Catur Dharma Pancasila.

Baca Juga :  Mau Pancasila atau Komunisme PKI? Sebuah Opini Asyari Usman
700 Covid
Loading...

Baca Juga