oleh

Pandemi Belum Usai, Amankah Sekolah Dibuka? Opini Naurah Ivana Zahara

700 Covid

Pandemi Belum Usai, Amankah Sekolah Dibuka?

Oleh: Naurah Ivana Zahara (Siswi HSG SMP Khoiru Ummah Samarinda)

Pandemi corona masih belum berakhir. Tak hanya orang dewasa, virus ini juga menyerang anak-anak. Hampir 1.000 anak terinfeksi covid, baik karena tertular orang tuanya atau lingkungannya.

Lantas, langkah pembukaan sekolah dikhawatirkan mengancam kesehatan anak dan akan menambah korban yang terjangkit karena penyebaran wabah (Covid-19) ini dilihat belum ada penuruan. Bahkan kasus Covid-19 pada anak di Indonesia cukup besar dibandingkan negara lain.

Maka rencana Tahun Ajaran Baru dengan sekolah new normal akan menghadapi kerawanan masalah tersendri dan menjadi bukti bahwa negara tak berempati terhadap keselamatan rakyatnya. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan, Tahun Ajar Baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020.

Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen paud Desmen) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari. (https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/lapsus-tahun-ajaran-baru-akan-dimulai-127-anak-di-surabaya-positif-covid-19-1tWQP6He33B)

Keputusan tersebut menimbulkan berbagai respon dari masyarakat salah satunya tentu kekhawatiran dan keresahan bagi para orang tua jika sekolah benar-benar akan dibuka saat masih dalam masa pandemi. Apalagi penyebaran virus ini sangat rentan dan mudah menyebar dari satu orang ke orang yang lain, dapat dipastikan keputusan ini akan membuat penularan virus corona meluas dan jumlah kasus terinfeksi pun akan semakin bertambah. Lalu jika demikian apa gunanya tindakan PSBB yang telah berbulan bulan diterapkan?

Baca Juga :  Ridwan Kamil Bukan Jawa Barat, Sebuah Opini Miftah H Yusufpati

Selain itu, keputusan pemerintah memberlakukan new normal tak bisa memberikan jaminan dan rasa aman terhadap orang tua dan anak. Yakinkah bila anak-anak tetap ke sekolah saat pandemi, anak-anak akan tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah, menjaga jarak dengan temannya dan bisakah anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap masker kotor dan basah?

1100 Covid

Pihak sekolah pun harus memastikan kebersihan lingkungan sekolah, memastikan anak-anak rajin mencuci tangan dan bila perlu menyediakan handsanitizer untuk para siswa dan segala protokol kesehatan lainnya. Maka sebelum sekolah dibuka diperlukan persiapan yang matang dan keamanan yang terjamin.

Sebaiknya pembukaan sekolah tidak dilakukan dalam waktu dekat ini sembari memantau hingga jumlah korban terinfeksi virus ini rendah dan memungkinkan masyarakat untuk aman beraktifitas normal seperti sediakala atau bahkan hingga tidak ditemukan lagi kasus terinfeksi sama sekali.

Baca Juga :  Catur Dharma Pancasila, Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso

Dari kebijakan tersebut menunjukkan bahwa sistem Kapitalis telah gagal dalam memberikan perlindungan dan rasa aman kepada rakyatnya. Sistem Kapitalis untuk kesekian kalinya kembali memberikan kebijakan yang tidak memuaskan dan mengecewakan rakyat. Kenapa sistem kapitalis seperti itu? Karena sistem kapitalis hanya dan selalu bersandar pada materi dan manfaat dari para segelintir orang dalam setiap kebijakan yang dihasilkan. Sehingga keselamatan rakyat tidak diprioritaskan. Jelas sekali hal ini sangat berbeda dengan sistem Islam yang selalu mengutamakan kepentingan ummat.

Menjadikan generasi sehat dan berkualitas sudah tentu menjadi kewajiban negara. Namun sangat disayangkan kebijakan new normal nyatanya berbanding terbalik dengan hal tersebut. Tetap membuka sekolah dimasa pandemi sama saja dengan mengorbankan keselamatan anak-anak. Lantas di manakah peran negara yang sebenarnya?

Baca Juga :  Mencoba Memahami Langkah Pak Prabowo Subianto

Dalam Islam, nyawa setiap individu begitu berharga. Seorang kepala negara tidak ragu melakukan kebijakan lockdown demi keselamatan rakyatnya meskipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan kepala negara pun akan menjamin kebutuhan hidup rakyatnya selama masa lockdown berlangsung.

Seorang kepala negara dalam Islam tidak membiarkan rakyatnya berdamai dengan wabah tanpa adanya vaksinasi dan pengobatan guna melindungi rakyat dari terjangkitnya virus. Karena sekali lagi, dalam Islam satu nyawa sangat berharga. Kepala negara beserta pejabat lainnya akan menjalankan tugasnya sebagai perisai yang siap melindungi rakyatnya karena tugas utama mereka dalam Islam adalah mengurus rakyatnya.

Dengan demikian sudah seharusnya ummat semakin sadar bahwa hanya Islam lah satu-satunya sistem yang paling sempurna, mampu memberikan jaminan perlindungan dan keamanan bagi rakyat karena hanya Islam yang benar-benar menerapkan peraturan dan tata cara hidup yang diberikan langsung oleh Allah yang tentu tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Karena hanya Allah lah yang paling tau apa saja yang terbaik untuk hamba-Nya. Wallahu a’lam

700 Covid
Loading...

Baca Juga