oleh

Malika Dwi Ana : Kudeta Senyap di Negeri Kecelik “Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso”

Oleh: Malika Dwi Ana
(Pengamat Sosial Politik — Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society)

Hari ini, tanpa sadar kita masih mengamalkan mantra sakti Snouck Hurgronje yakni ajian goyang ala devide et impera. Pecah belah di sisi dalam. Dueeeerr!!! Dan negeri nan guyup pun kini riuh, gaduh gak karuan, bahkan nyiur yang dulu lembut melambai-lambai, kini atraktif, lambaiannya seperti mau mengacak-acak awan saking hebohnya. Entah kenapa…

Ya gitu deh, kegaduhan politik tampak gemerlap di permukaan namun tidak menyentuh kepentingan nasional sama sekali. Substansi kepentingan nasional itu sebagaimana tujuan dibentuknya negara, seperti termaktub di pembukaan UUD45; merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja. Maka silakan dicermati, apakah kegaduhan politik selama ini mengarah pada terwujudnya substansi tersebut, atau sebaliknya, malah kian menjauh?

Jika gaduh, yang dipersoalkan gak lebih dari hal remeh temeh. Misal, kemarin UAS ditolak ceramah di Jatim dan Jateng, besok dibalas, Ansor dan Banser ditolak di Riau, daerah asal UAS. Kemarin, emak-emak jadi trending topic; The power of emak-emak. Kini emak-emak dihimbau diubah menjadi ibu bangsa. Termasuk julukan kampreter versus cebonger terhadap netizens yang membelah kohesi sosial sejak Pilpres 2014. Sangat remeh temeh to?!

Itulah potret bangsa wayang, tak punya kepribadian dan kekanak-kanakan. Suka membuat tandingan. Tidak sadar bahwa sebenarnya sedang dibentur-benturkan. Senengnya larut dalam kegaduhan di hilir. Ramai di kulit, sepi di esensi, ramai narasi tapi kosong muatan. Begini skenario di level grassroot atau tataran akar rumput. Lalu bagaimana skenario asing di level atas?

Baca Juga :  JAKI: Pengadilan Internasional Siap Urusi Korban HAM dan Kriminalisasi

Hampir sama sih. Nyaris disetiap peristiwa gonjang-ganjing politik, peran para elit politik hanya sebagai wayang. Ya ini asumsi saya. Silakan tidak sepakat, apalagi sepaket. Coba lihat beberapa contoh. Pergantian kekuasaan orde lama ke orde baru, misalnya, ada tangan-tangan asing yang meremote para elit. Pun perubahan orde baru ke era reformasi juga bukti bahwa asumsi diatas bukanlah isapan jempol belaka. Semangat perubahan untuk lebih baik di setiap pergantian orde, selalu diselipi agenda asing, membonceng istilahnya. Ada penumpang gelap dan The Invisible Hands yang meremote dari kejauhan. Tak terlihat tapi bisa dirasa keberadaan dan dampaknya.

Dan dari kedua contoh di atas, sepertinya para tokoh politik dan elit bangsa ini hanya sekedar menjalankan skenario yang disodorkan asing. Lantas, bagaimana dengan mahasiswa? Ahh, jangankan mahasiswa, wong kaum intelektual, tokoh, bahkan ulama aja lho cuma jadi pemandu sorak kekuasaan. Gak malu-malu lagi, seolah-olah berjuang, tapi ya cuma pion atas nama moral dan keprihatinan rakyat. Terbukti pasca reformasi, berbagai instrumen negara pun dibajak segelintir elit wayang agar setiap kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak dibikin pro asing. Karena terlalu asyik gaduh, tanpa disadari kita justru menjadi alat tangan-tangan asing di bumi pertiwi. Sekali lagi, jika terus larut dalam ajian Snouck, maka proxy agents dimana-mana itu justru adalah kita sendiri.

Baca Juga :  Narasi Keadilan Ala Semesta, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Terutama ketika amandemen UUD 1945 sebanyak 4x telah memandulkan fungsi DPR/MPR, membuat lumpuh pasal 33 UUD 1945 dan lain-lainnya. Amandemen itu melahirkan UUD baru bertitel “UUD 2002”. Akibatnya, substansi pasal 33 lumpuh. Bumi, air dan segala yang terkandung di bawahnya dikuasai negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat seharusnya, tetapi dalam praktiknya justru banyak dikuasai swasta, dan dikendalikan segelintir orang (bahkan asing) untuk kepentingan diri dan kelompok mereka sendiri. Sekali lagi, pasal 33 mandul, lemah dan cuma jadi slogan semata. Hadirnya UUD 2002 justru membidani berbagai UU yang pro kepentingan asing dan bukan pro kepentingan nasional, atau bukan melayani rakyat selaku pemilik negeri.

Dokter Zulkifli S Ekomei mengistilahkan ini sebagai kudeta konstitusi. Tapi buat saya, inilah kudeta paling sunyi. Penjajahan senyap melalui sistem politik via sistem konstitusi. Tidak ada letusan peluru maupun perang senjata, tapi sebagian kekayaan bangsa malah jatuh serta lari ke luar, jatuh ke entitas yang tak berhak sama sekali. Cak Nun menyebut, ini bangsa kecelik. Kecelik terus di setiap orde. Alangkah perih, kata Cak Nun, nasib bangsa yang kerjaannya dibohongi terus, dikadalin melulu. Setelah itu, diberikan angin sorga, diberi harapan palsu, lalu dibohongi-dibohongi lagi. Gak bosen apa dibohongi mulu?!

Apakah kegaduhan anak bangsa kini mengarah pada perjuangan guna merebut kedaulatan bangsa dan negara yang telah direbut secara senyap melalui sistem oleh asing? Ataukah, kita sadar diri, lalu insyaf untuk tidak lagi menjadi bangsa kecelik? Ohh, belum tuan-tuan! Masih jauh ternyata. Sebab hari ini, masih mainan jargon serta hestek, menghadapkan antara emak-emak versus ibu bangsa. Hingga detik ini, tak sedikit persekusi terhadap ulama. Tagar dihadapkan tagar, ormas ini versus ormas itu. Selalu dibuat tandingan dan tandingan. Dan suatu saat pasti akan ada benturan. Gak capek apa ya diadu kayak sedang ada perang antara kebaikan dan kebathilan? Stop narasi itu!! ngga ada itu perang antara kebaikan dan kebathilan! Masing-masing kubu punya orang-orang yang baik dan orang-orang yang bathil. Di semua kubu, yang menang seringkali yang bathil. Kita hanya akan menjadi abunya. Sering juga ndomblong, LHO KOK, eL Ha O kok Ka O Ka. lalu turu pasar bantalan gobis, karena kalah dan ingah-ingih terus.

Baca Juga :  Toleransi dan Ucapan Selamat Natal

Kapal NKRI saat ini sudah oleng dan tak tahu arah tujuan. Mbok daripada kesasar lebih jauh dan malah karam ditengah lautan, maka lebih baik kembali lagi mumpung belum telat ke START POSITION bangsa, dari situ kan jadi jelas arah TUJUAN AKHIR bangsa ini.

Ya semoga Pilpres 2019 nanti bukanlah rancangan untuk meng-kecelik-kan kita lagi. Dan semoga ada kontra sistem untuk mengembalikan UUD 1945 produk founding fathers lalu mengamalkan Pancasila dan pasal-pasal UUD 45-nya secara murni, dan konsekuen. Bismillahi aamiin, alfatihah!

Siapapun presiden yang terpilih kelak, ingat-ingatlah pesan ini; Ojo kecelik maning, ojo keblondrok terus, dan jangan menjadi bangsa yang kalah mulu!

Wes ngono wae. Mohammad Ismail Syahid
Kopi_kir sendirilah!

#kopitalisme
#kopilosophi
#Malawu_OmahKopi

Loading...

Baca Juga